Kamis, 22 Maret 2018

Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)



Sumber: wearenolte.com
Dalam bukunya pada tahun 2009, Shadiq mengemukakan bahwa salah satu model serta strategi yang lebih inovatif dan sesuai tuntutan kurikulum model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) (hlm. 3). Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk mendidik siswa dalam bekerja sama dalam sebuah kelompok pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran kooperatif yaitu; hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keanekaragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. 
  

Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan salah satu dari sekian banyak tipe model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Mari Simak!


1.      Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray atau dua tinggal dua tamu dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Metode Two Stay Two Stray ini merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi. 

Adapun beberapa pengertian mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray menurut para ahli:

Dalam bukunya pada tahun 2005, Lie mengatakan bahwa model pembelajaran Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua tamu) merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar memecahkan masalah bersama anggota kelompoknya, kemudian dua siswa dari kelompok tersebut bertukar informasi ke dua anggota kelompok lain yang tinggal.

Menurut Ika Berdiati (2010: 92), model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray merupakan bagian dari pembelajaran koopertif yang memberi pengalaman kepada siswa untuk berbagi pengetahuan baik di dalam kelompok maupun dalam kelompok lainnya.

Sedangkan Fadriani (2013) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah pembelajaran yang menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas -tugas yang harus dipelajari tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. 

Model pembelajaran Two Stay Two Stray (dua tinggal dua tamu) bisa digunakan di semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan anak didik. Struktur dua tinggal dua tamu memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.

Sumber: blog.octanner.com


2.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Menurut Lie, dldalam bukunya pada tahun 2005, langkah-langkah model pembelajaran yang dilakukan dengan model Two Stay Two Stray yaitu:

Sumber: Lynda.com
·        Siswa bekerja dalam kelompok berempat seperti biasa.
·       Setelah selesai, dua orang dari masing-masing diantara dua kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain.
·      Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi kepada tamu mereka.
·     Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
·         Kelompok mencocokan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Menurut Lie Pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

·         Tahap persiapan
Guru membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), sistem penilaian, menyiapkan LKS (lembar kerja siswa) dan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen dalam hal jenis kelamin dan prestasi belajar.

·         Presentasi guru
Guru menyampaikan indikator pembelajaran dan menjelaskan materi secara garis besarnya sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya.

·         Kegiatan kelompok
Dalam kegiatan ini, pembelajarannya menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesaikan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Masing-masing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari temannya. Kemudian dua dari empat anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain secara terpisah, sementara dua anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Setelah memperoleh informasi dari dua anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuan dari kelompok lain serta mencocokkan hasil kerja mereka.

·         Presentasi kelompok
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan, salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Dalam hal ini masing-masing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban atapun tanggapan kepada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil diskusinya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke jawaban yang benar.

·         Evaluasi kelompok dan penghargaan
Pada tahap evaluasi ini, untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahai materi yang telah diberikan dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang diajukan dan ketepatan jawaban yang telah diberikan atau diajukan.



3.      Kelebihan kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) adalah sebagai berikut:

Kelebihan

·         Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
·         Pembelajaran akan lebih bermakna.
·         Pembelajaran berpusat pada siswa.
·         Siswa akan lebih aktif.
·         Siswa lebih berani dan percaya diri mengungkapkan pendapatnya.
·         Meningkatkan kemampuan berbicara siswa.
·         Dapat meningkatkan minat siswa.

Kekurangan

·         Memperlukan waktu yang lama.
·         Membutuhkan banyak persiapan.
·         Siswa yang kurang akan bergantung kepada siswa yang pintar maka ada kecenderungan siswa tidak mau belajar dalam kelompok.
·         Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan tenaga)

Sumber: cooperativelearning.work
Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS), maka sebelumpembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang lain.


4.      Hasil Penelitian Terkait dengan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Berdasarkan beberapa penelitian, model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) ini dipercaya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang mendukung:

1)   Penelitian yang dilakukan oleh Dian Mayasari berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Motivasi Siswa”. Berdasarkan penelitian, pembelajaran dengan metode pembelajaran Two Stay Two Stray ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan motivasi siswa kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari.  Komunikasi matematis siswa mengalami peningkatan yaitu rata-rata nilai komunikasi
matematis siswa 69,79 di akhir siklus pertama dan di akhir siklus kedua naik menjadi 79,63. Siswa semakin aktif dan lancar mengkomunikasikan ide matematisnya baik dalam diskusi kelompok maupun presentasi kelas. 

2)   Penelitian yang dilakukan oleh Dian Mayasari berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Komunikasi Matematis Tertulis Siswa Kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan”. Berdasarkan penelitian yang menggunakan pendekatan PTK ini, kemampuan matematis siswa mengalami peningkatan, dimana pada siklus pertama, rata-rata nilai siswa 69,79 dan hanya 50% siswa mendapat nilai minimal 75. Pada siklus kedua, rata-rata nilai siswa 79,625 dan 77,8% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga penelitian dikatakan berhasil. Dengan demikian, pembelajaran dengan metode pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis tertulis siswa kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan.

3)  Penelitian yang dilakukan oleh Firman Indra Pamungkas berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TSTS dengan Pendekatan CTL untuk Mrningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Lisan dan Koneksi Matematis”. Berdasarkan penelitian, terdapat oeningkatan yang terjadi pada siklus 1 ke siklus 2, seperti aspek kemampuan mengekspresikan ide-ide matematis melalui lisan dari 10,5% menjadi 33,5%, aspek kemampuan menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matematis melalui lisan dari 7,15% menjadi 31,3%, dan aspek kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika dan model matematika dari 16% menjadi 36%. Dengan demikian terbukti bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TSTS dengan pendekatan CTL dapat meningkatkan kemampuan komunikasi lisan siswa kelas X SMA Negeri 3 Boyolali.

------------


  
Daftar Pustaka


Abdul. 2017. Model Pembelajaran Two Stay Two Stray, (Online), (http://abdulgopuroke.blogspot.co.id/2017/02/model-pembelajaran-two-stay-two-stray.html diakses pada 20 Maret 2018).
Lie, A. 2005. Cooperative Learning,Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Mayasari, Dian. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Komunikasi Matematis Tertulis Siswa Kelas XI IPA 5 SMAN 1 Purwosari Pasuruan. Diakses dari http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelEEA1F0CF3BDA5639F120B941C8A8508.pdf&ved=2ahUKEwix66K_zv_ZAhVJwI8KHVI3Bn8QFjAAegQIBhAB&usg=AOvVAW32lbbCxDVc3pTcltUWLpk9 tanggal 20 Maret 2018.
Mayasari, Dian. 2015. Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray untuk meningkatkan komunikasi matematis dan motivasi siswa. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UMS. Hlm. 102-111. Diakses dari http://publikasiilmiah.ums.ac.id./xmlui/bitstream/handle/11617/102_111%252DIAN%MAYASARI.pdf%3Fsequence%3D1%26isAllowed%3Dy&ved=2ahUKEwix66K_zv_ZAhVJwI8KHVI3BnQFABegQIBxAB&usg=AOvVaw1tq2NsCoimEa5rVHMyw2s3 pada 20 Maret 2018.
Pamungkas, Firman Indra, 2017. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TSTS dengan Pendekatan CTL untuk Mrningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Lisan dan Koneksi Matematis. Seminar Matematika dan Pendidikan Matematika UNY. Hlm. PM-207 – PM-312. Diakses dari http://seminar.uny.ac.id/sites/seminar.uny.ac.id.semnasmatematika/files/full/M-46.pdf&ved=2ahUKEwjFweCk3_ZAhUMMo8KHcaZARoQFjADegQIBxAB&usg=AOvVaw0bo05FUVVFePvLglVRXfuB pada 22 Maret 2018.
Riadi, Muchlisin. 2016. Model Pembelajaran tipe Two Stay Two Stray, (Online), (https://www.kajianpustaka.com/2016/03/model-pembelajaran-tipe-two-stay-two-stray.html diakses pada tanggal 20 Maret 2018).
Shadiq, Fadjar. 2009. Model-model pembelajaran matematika SMP. Sleman: PPPPTK Matematika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar