Dewey dalam Suyanto dan Jihad mendefinisikan model
pembelajaran sebagai suatu rencana atau pola yang dapat kita gunakan untuk
merancang tatap muka di kelas atau pembelajaran tambahan di luar kelas, serta
untuk menyusun materi pembelajaran (Suyanto dan Jihad, 2013, 134).
Dalam bukunya pada tahun 2009, Shadiq mengemukakan beberapa model serta strategi yang lebih inovatif dan sesuai tuntutan kurikulum antara lain: model pemecahan masalah, model penemuan, model Missouri Mathematics Project (MMP), model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), dan model pembelajaran kontekstual (CTL) atau realistik (RME) (hlm. 3).
![]() |
| sumber: teachwire.net |
Model
pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk
mendidik siswa dalam bekerja sama dalam sebuah kelompok pembelajaran. Adapun
tujuan dari model pembelajaran kooperatif yaitu; hasil belajar akademik,
penerimaan terhadap keanekaragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Terdapat berbagai tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan
dalam sebuah kegiatan belajar mengajar, seperti Think Talk Write (TTW), Jigsaw, Think Pair Share, Number Head
Together (NHT), Two Stay Two
Stray (TSTS), dan masih banyak lagi tipe lainnya.
Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan
salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif, yaitu Think Talk Write (TTW). Mari simak!
1. Pengertian Model
Pembelajaran Kooperatif tipe Think Talk
Write (TTW)
Berikut ini merupakan pengertian model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) menurut para ahli:
Menurut Porter (1992:179) bahwa Think Talk Write (TTW) adalah pembelajaran dimana siswa diberikan
kesempatan untuk memulai belajar dengan memahami pemasalahan
terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan
akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri hasil belajar yang
diperolehnya.
Dalam bukunya pada
tahun 2009 Suyatno menuturkan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe Think Talk
Write (TTW) adalah model pembelajaran yang dimulai dengan berpikir
dengan bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), yang
kemudian hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan
kemudian membuat laporan hasil presentasi, diskusi. Sintaks dari model pembelajaran ini adalah:
informasi, kelompok (membaca-mencatat-menandai), presentasi, diskusi, dan
melaporkan (hlm. 66).
Sedangkan Suhendar, dalam bukunya tahun 2011, mengemukakan bahwa model pembelajaran Think Talk Write (TTW) pada dasarnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif sehingga dalam pelaksanaanya, model ini membagi sejumlah siswa kedalam kelompok kecil secara heterogen agar suasana pembelajaran lebih efektif.
Alur kemajuan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide dengan temannya sebelum menulis. Suasana ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengarkan dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Pada dasarnya
pembelajaran ini dibangun melalui proses berpikir, berbicara dan menulis Aktivitas berpikir, berbicara, dan
menulis inilah yang merupakan bentuk aktivitas belajar-mengajar matematika yang
memberikan peluang kepada siswa untuk berpartisipasi aktif. Melalui aktivitas
tersebut siswa dapat mengembangkan kemampuan berbahasa secara tepat, terutama
saat menyampaikan ide-ide matematika.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Think Talk Write (TTW)
Tahapan-tahapan
yang dilakukan dalam pembelajaran menggunakan tipe ini adalah berpikir (Think), berbicara (Talk), dan menulis (Write).
1) Berpikir (Think)
| Sumber: iconfinder.net |
Think merupakan
aktivitas siswa untuk berpikir. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan apersepsi
yang diberikan guru, proses membaca suatu teks atau cerita kemudian membuat
catatan tentang apa yang telah dibaca. Dalam membuat atau menulis catatan,
siswa membedakan dan mempersatukan ide yang disajikan dalam teks bacaan
kemudian menerjemahkan ke dalam bahasa sendiri.
Menurut
Wiederhold (Yamin dan Ansari, 2008:85) membuat catatan berarti menganalisis
tujuan isi teks dan memeriksa bahan-bahan yang ditulis. Selain itu belajar
membuat/menulis catatan setelah membaca dapat merangsang aktivitas berpikir
sebelum, selama dan setelah membaca. Membuat catatan dapat memperluas
pengetahuan siswa, bahkan meningkatkan ketrampilan berpikir dan menulis.
Kemampuan
membaca yang meliputi membaca baris demi baris atau membaca yang penting saja
menurut Wiederhold (Yamin dan Ansari, 2008:85) secara umum dianggap berpikir.
Seringkali suatu teks bacaan disertai panduan yang bertujuan untuk mempermudah
dalam diskusi dan mengembangkan pemahaman siswa (Narode dalam Yamin dan Ansari,
2008:85). Dalam tahap ini, teks bacaan selalui dimulai dengan soal-soal
kontekstual yang diberi sedikit panduan sebelum siswa membuat catatan kecil.
2) Bicara (Talk)
![]() |
| Sumber: iconfinder.com |
Talk merupakan
aktivitas siswa dalam berkomunikasi dengan mengguna-kan kata-kata dan bahasa
yang mereka pahami. Talk membantu guru mengetahui tingkat pemahaman siswa
dalam belajar sehingga dapat mempersiapkan perlengkapan pembelajaran yang
dibutuhkan. Tahap talk ini juga memungkinkan siswa untuk terampil
berbicara. Siswa melakukan komunikasi dengan teman menggunakan kata-kata dan
bahasa yang mereka pahami untuk menyajikan ide kepada temannya, membangun teori
bersama, sharing strategi solusi dan membuat definisi.
Menurut Yamin
dan Ansari (2008:86), manfaat talk adalah:
o Merupakan tulisan, gambaran, isyarat atau percakapan
sebagai bahasa manusia
o Pemahaman dibangun melalui interaksi dan konversasi
(percakapan) antara sesama individual yang merupakan aktivitas sosial yang
bermakna,
o Cara utama partisipasi komunikasi yaitu siswa
menggunakan bahasa untuk menyajikan ide kepada temannya dan membuat
definisi,
o Pembentukan ide,
o Internalisasi ide yang dibentuk melalui berpikir dan
memecahkan masalah,
o
Meningkatkan dan
menilai kualitas berpikir.
3) Menulis
(Write)
![]() |
| Sumber: iconfinder.com |
Menurut
Yamin dan Ansari (2012:88) aktivitas siswa selama fase ini adalah :
o Menulis solusi terhadap masalah atau pertanyaan yang
diberikan termasuk perhitungan,
o Mengorganisasikan semua pekerjaan langkah demi
langkah baik penyelesaiannya ada yang menggunakan diagram, grafik, atau pun
tabel agar mudah dibaca dan ditindaklanjuti,
o Mengoreksi semua pekerjaan sehingga yakin tidak ada
pekerjaan atau pun perhitungan yang ketinggalan,
o
Meyakini bahwa
pekerjaannya yang terbaik yaitu lengkap, mudah dibaca dan terjamin keasliannya.
Sedangkan langkah–langkah
model pembelajaran kooperatif tipe Think
Talk Write (TTW) menurut Martinis Yamin dan Bansu I.Ansari (2008)
adalah:
o Guru membagi teks bacaan berupa lembar aktivitas
siswa yang memuat situasi masalah yang bersifat open - ended serta
memberikan petunjuk dan prosedur pelaksanaannya.
o Siswa membaca teks dan membuat catatan hasil bacaan
serta individual, untuk dibawa ke forum diskusi (Think)
o Siswa berinteraksi dan berkelaborasi dengan teman
untuk membahas isi catatan (Talk). Guru
berperan sebagaimediator dalam lingkungan belajar.
o Siswa mengkontruksikan sendiri pengetahuan sebagai
hasil kolaborasi (Write).
o
Guru memantau
dan mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
Adapun kelebihan dan
kekurangan yang ditimbulkan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) ini, yaitu:
Kelebihan
o Membantu siswa
dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga pemahaman konsep siswa
menjadi lebih baik,
o Mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka
memahami materi ajar.
o Model
ini berpusat pada siswa, Dengan mengkomunikasikan
atau mendiskusikan pemikirannya dengan temannya sehingga siswa saling membantu
dan saling bertukar pikiran. Hal ini akan melibatkan siswa secara aktif dan membantu
siswa dalam memahami materi yang diajarkan.
o Melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusinya ke
bentuk tulisan secara sistematis sehingga siswa akan lebih memahami materi dan
membantu siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan.
o Dengan memberikan soal open ended dapat
mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan kreatif siswa.
o
Membiasakan
siswa berpikir dan berkomunikasi dengan teman, guru, dan bahkan dengan diri
mereka sendiri.
Kekurangan
o
Model Think Talk Write (TTW) adalah model
pembelajaran baru di sekolah sehingga siswa belum terbiasa belajar dengan
langkah-langkah pada model Think Talk Write
(TTW). Hal ini menyebabkan siswa cenderung kaku dan pasif.
o
Siswa yang kesulitan belajar akan mudah kehilangan kemampuan dan
kepercayaan ketika bekerja dalam kelompok.
o
Guru harus
benar-benar menyiapkan semua media dengan matang agar dalam menerapkan model
pembelajaran ini, agar tidak mengalami kesulitan.
Berdasarkan beberapa
penelitian, model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) ini dipercaya dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi siswa. Berikut ini merupakan penelitian-penelitian yang mendukung:
1. Penelitian
dilakukan oleh Alfian Tri Ananda, Makmuri, dan Lukita Ambarwati dengan judul
“Penerapan Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis
Siswa pada Materi Pythagoras Kelas VIII-E SMP Negeri 115 Jakarta”. Berdasarkan
penelitian tindakan kelas ini, kemampuan komunikasi matematis siswa kelas
VIII-E SMP Negeri 115 Jakarta menjadi lebih baik dan mengalami peningkatan. Hal
ini didukung oleh nilai rata-rata tes akhir siklus kemampuan komunikasi
matematis, dimana pada siklus I siswa mampu mencapai nilai rata-rata 56,48,
lalu pada siklus II meningkat menjadi 68,29, dan selanjutnya meingkat lagi
menjadi 87,73 pada siklus III. Dengan adanya tahapan Think Talk Write, siswa memperoleh kesempatan untuk
berdiskusi, berkomunikasi, dan mengoptimalkan partisipasinya sehingga siswa
dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuanya unuk menyelesaikan masalah yang
diberikan.
2. Penelitian dilakukan oleh Syaiful Hadi dengan judul
“Analisis Kemampuan Komunikasi Matematika melalui Model Think Talk Write (TTW) di Kelas VII SMP Negeri 1 Manyar Gresik”.
Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa pembelajaran Think Talk Write (TTW) lebih
baik daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan komunikasi
matematika siswa SMP Negeri 1 Manyar. Hal tersebut dikarenakan model Think Talk Write (TTW) memberikan peluang kepada siswa berpikir
melalui bahan bacaan matematika yang selanjutnya mengkomunikasi-kan hasil
bacaannya dengan presentasi dan diskusi.
3. Penelitian
dilakukan oleh Nunun Elida dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik
Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran Think-Talk-Write (TTW)”. Berdasarkan analisis data, diperoleh bahwa
kemampuan komunikasi matematik siswa yang pembelajarannya menggunakan
pembelajaran Think Talk Write (TTW) secara signifikan lebih baik daripada
yang pembelajarannya menggunakan cara konvensional.
---------
Daftar
Pustaka
Abdul.
2017. Model Pembelajaran Think-Talk-Write (TTW), (Online), (http://abdulgopuroke.blogspot.co.id/2017/02/model-pembelajaran-Think-Talk-Write-ttw.html diakses pada 18 Maret 2018).
Ananda, Tri Alfian, Makmuri, dan
Lukita Ambarwati. 2012. Penerapan Pendekatan Saintifik dengan
Model Pembelajaran Think Talk Write
(TTW) untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa pada Materi
Pythagoras Kelas VIII-E SMP Negeri 115 Jakarta. Diakses dari http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jrpms/article/view/42513186
diakses pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 12.13 WIB.
Elida, Nunun. 2012. Meningkatkan
Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui
Pembelajaran Think-Talk-Write (TTW). Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP
Siliwangi Bandung. Vol. 1 No. 2. Hlm. 178-185. Diakses dari http://www.e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/infinity/article/view/17 pada tanggal 27
Desember 2017 pukul 09:28 WIB.
Hadi,
Syaiful. 2007. Analisis Kemampuan Komunikasi Matematika melalui Model Think Talk Write (TTW) di Kelas VII SMP
Negeri 1 Manyar Gresik. Jurnal Pendidikan
Matematika. Hlm. 28-35.
Riadi,
Muchlisin. 2014. Model Pembelajaran
Kooperatif Think Talk Write (TTW), (Online), (https://www.kajianpustaka.com/2014/02/model-pembelajaran-kooperatif-Think.html diakses pada tanggal 18 Maret 2018).
Shadiq,
Fadjar. 2009. Model-model pembelajaran matematika SMP. Sleman: PPPPTK
Matematika.
Suyanto,
dan
Jihad, Asep. 2013. Menjadi Guru
Profesional: Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global.
Jakarta: Esensi.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo:
Masmedia Buana Pustaka.
Yamin, Martinis dan Bansu I. Ansari. 2012. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa.
Jakarta: Referensi.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar